spot_img

Bakso Red Devil, Harapan Baru Nelayan dan Usaha Kuliner

TOBA – Masih ingat ikan setan merah alias red devil yang juga disebut dengan nama ikan tayo-tayo? Tidak tahu dari mana bermula, ikan yang dicap sebagai ikan predator itu tiba-tiba saja muncul di perairan Danau Toba. Kehadiran ikan setan merah dimaksud spontan membuat masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya sebagai nelayan di Danau Toba resah.

Konon ikan merah tersebut memangsa ikan mujahir yang masih kecil-kecil sehingga populasi ikan mujahir semakin berkurang yang berimbas pada hasil tangkapan nelayan Danau Toba. Keresahan nelayan sudah disuarakan kemana-mana namun belum ada solusi yang bisa menjawab kegundahan para nelayan tersebut secara signifikan.

Populasi ikan tersebut semakin tidak terbendung seiring dengan kerisauan hati nelayan akan ikan mujahir dan ikan khas Danau Toba lainnya yang semakin berkurang jumlahnya. Lantas apa ikan setan merah harus dibasmi karena hanya membawa petaka? Kalau harus dibasmi siapa yang mampu melakukannya? Belum ada setidaknya hingga saat ini.

Beruntung Danau Toba punya seorang wanita yang memberikan hatinya akan keberadaan ikan setan dimaksud.

Berawal dari keluhan sang ayah, seorang nelayan di danau, semakin sulit mendapatkan ikan mujahir. Vina lantas mengajak suaminya ke danau untuk melihat berbagai perangkat penangkap ikan maupun perangkap (bubu) udang lobster milik ayahnya.

Saat berbagai alat tangkap itu diangkat ke permukaan isinya semua ikan merah. Tidak ada ikan mujahir. Vina merenung, ya Tuhan apalah yang bisa saya perbuat dengan ikan ini? Lantas Vina teringat pengalamannya ketika berkunjung ke Pulau Jawa, tepatnya di Sidoarjo.

Di sana ada ada satu desa yang notabene jauh dari laut namun mampu memproduksi aneka kerupuk ikan. Di sini danau ada di depan rumah, punya potensi ikan setan merah yang jika di pancing dengan umpan cacing saja dalam sekejab bisa terkumpul hingga beberapa kilo.

TERKAIT  Bersama ASPPI, Pariwisata Samosir Kreatif dan Inovatif

Singkat cerita Vina bersama suaminya yang orang Menado itu, mulai mengolah ikan setan merah menjadi bakso. Berbagai tantangan bahkan cibiran mewarnai hari-hari sepasang suami istri itu dalam merintis usaha pengolahan ikan setan merah menjadi bakso.

Bak kata pepatah, ”usaha tidak pernah menghianati hasil”. Dagangan bakso tayo-tayo ulahan Vina semakin diminati.

Untuk bahan baku ikan setan merah, kini ibu 2 orang anak itu sudah membeli dari nelayan dengan harga mulai Rp5.000 hingga Rp10.000/kg sesuai ukuran. Bakso tayo-tayo pun semakin digemari. Hari Senin sampai Kamis perempuan lulusan SMK ini jualan online dan juga keliling kampung. Sedangkan hari Jumat dan Minggu, Vina menggelar dagangannya di Pondok Tayo Tayo miliknya di seputaran objek wisata Siregar Aek Nalas Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba.

Soal rasa? Tidak diragukan lagi. Bakso tayo-tayo yang dibanderol dengan harga Rp12.000 hingga Rp15.000/porsi itu seketika ludes saat Vina menggelar dagangannya pada peresmian sebuah objek wisata di Kecamatan Uluan. “Renyah, gurih dan tidak ada rasa amis ya, gumam para pembeli.”

Demi cintanya akan keberlangsungan ekosistem Danau Toba serta peningkatan pendapatan pegiat kuliner, Vina bahkan siap dan dengan sukarela berbagi cara bagaimana ikan yang tadinya dicap sebagai pembawa malapetaka menjadi rejeki. Untuk pemesanan dan info lainnya bisa menghubungi Vina di nomor 085806390070.

 

Penulis   : Asmon Pardede
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU