Bahasa Batak Memang Kaya

BERSPONSOR

NINNA.ID – Bahasa Batak sangat kaya. Pada berbagai aspek, jauh lebih kaya daripada bahasa Indonesia. Kita ambil contoh padi. Di bahasa Batak, padi adalah eme. Padi yang masih dalam bungkusan batangnya disebut boltok. Padi yang kosong disebut lapung. Itu masih padi. Jika sudah beras, lebih banyak lagi.

Beras kecil yang terbuang setelah ditampi disebut monis. Setelah dimasak, disebut nasi. Jika nasinya terbuang atau sisa-sisa, disebut rima-rima. Itulah bahasa Batak. Kaya dalam penyebutan. Bahasa Inggris kalah pada beberapa kata. Juga bahasa Indonesia. Kita misalkan masuk pada kasus yang melegenda.

Ini tentang pedihnya sebuah kehilangan. Di bahasa Batak, betapapun pedihnya sebuah kehilangan, kita tetap bisa mengartikannya dengan sebuah bahasa ringkas. Kita bandingkan dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia termasuk kaya dalam mengungkapkan sebuah kehilangan secara ringkas.

Misalnya, janda untuk istri yang kehilangan suami, duda untuk suami kehilangan istri, yatim untuk anak yang kehilangan ayah atau ibu, dan yatim piatu untuk anak yang kehilangan kedua orangtuanya. Namun, bahasa Indonesia ternyata tak cukup kuat untuk mengungkapkan kondisi seorang ibu/ayah yang kehilangan anaknya.

BERSPONSOR

Kenyataan itu akhirnya mengarah pada sebuah simpulan: bahwa tiada kehilangan yang lebih pedih daripada kehilangan seseorang anak. Karena itu, kita menatap haru ketika Ridwan Kamil rela mengitari Sungai Aare. Ia berpeluh untuk mencari dan mencari. Kita meringis ketika ibu Brigadir J menangis di depan peti mati anaknya.

Padahal, secara matematis, kehilangan seorang anak tidaklah lebih rugi. Sebab, umumnya, anak kandung lebih dari satu. Sementara itu, ayah dan ibu kandung pasti hanya satu. Artinya, begitu kehilangan ayah atau ibu kandung, kita sudah kehilangan segalanya yang satu-satunya. Tiada yang bisa menggantikannya lagi.

Sebaliknya, kecuali anak tunggal, orangtua masih punya anak kandung lainnya. Ridwan Kamil dan Rosti Simanjuntak (ibunda almarhum Brigadir J), misalnya, masih tetap punya anak kandung meski mereka sudah kehilangan seseorang anak. Saya tak sedang dalam posisi untuk mengatakan bahwa kehilangan seorang anak bukanlah sebuah kesedihan.

TERKAIT  Menggali Sejarah Si Raja Batak

Justru, dalam paham bahasa Indonesia, karena tiadanya bahasa ringkas untuk mengungkapkan kesedihan orangtua atas kehilangan anaknya, maka kesedihan atas kehilangan anak adalah kesedihan yang tidak terbahasakan. Namun, sepedih apa pun kehilangan, sesungguhnya kita tetap bisa menamainya dalam sebuah istilah, termasuk kehilangan anak.

BERSPONSOR

Orang Batak puak Toba, misalnya, menyebutkan “tilahaon” bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sementara itu, “tilaha” mengacu pada anak yang sudah meninggal tersebut. Kematian seperti ini sangat menyedihkan sehingga tidak ada upacara. Malah, pada zaman dahulu, jasad anak yang meninggal tidak akan dibawa ke luar melalui pintu. Kematian seperti itu dirahasiakan.

Ada satu naskah kuno tentang kata “tilaha”: /jaha horbo marobo mangadpohon nariti/ buhit bayo tora tilahan ni horbo inon/. Naskah ini sudah tak akan mudah dimengerti lagi oleh orang Batak modern, kecuali hanya meraba-raba. Namun, dari sanalah kiranya muasal kata “tilaha” bagi orang Batak. Padanan kata ini adalah celaka yang berasal dari bahasa Sanskerta.

Dari naskah kuno itu, “tilahan” masih cenderung berarti celaka secara umum karena masih dikaitkan dengan kerbau (horbo). Tak diketahui sejak kapan kata “tilaha” menjadi lebih spesifik sebagai identifikasi dari kemalangan yang dialami oleh seorang tua karena kehilangan anaknya.

Ya, bahasa Batak memang kaya. Bahasa Indonesia mengartikan adik laki-laki atau suami dari adik perempuan ayah kita sebagai paman. Jika wanita, disebut bibi. Bahasa Batak lebih luas. Ada tulang untuk saudara laki-laki dari ibu. Ada amang boru untuk suami dari saudari ayah kita. Intinya, bahasa Batak sangat kaya.

- Advertisement -

Penulis : Riduan Pebriadi
Editor   : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU