spot_img

Pemberdayaan Pengrajin Bersama BPNB ACEH

Bahan Pewarna Alami Ulos dari Kawasan Danau Toba

SAMOSIR – Dari kegiatan Telisik Pewarnaan Alami, Martonun dan Manirat Ulos Mangiring, 50 orang peserta Pemberdayaan Pengrajin di Kawasan Danau Toba belajar cara mendapatkan dan menggunakan bahan pewarna ulos alami. Seorang pelaku budaya yang menjadi instruktur di sana, Sepwan Sinaga menungkapkan, ulos berwarna alami meningkatkan nilai. Dan bahan pewarna alami itu, ada di sekitar kawasan Danau Toba dan sangat mudah untuk didapatkan.

Dimulai dari bahan kapur sirih. Walau terlihat putih, tapi bahan ini digunakan untuk membuat warna tampak lebih tua. Pasta indigo atau disebut “salaon” yang tumbuh banyak di tanah Batak,  adalah bahan untuk membuat warna biru seperti pada ulos Sibolang.

Selanjutnya  ada kayu dapdap dan kayu nangka, yang menghasilkan warna kuning. Kayu jabijabi menghasilkan warna cokelat, kayu raja untuk warna agak biru hingga agak hitam. Adalagi kayu jior untuk menghasilkan warna cokelat.

Lalu ada tawas. Bahan putih mengkilap ini dipergunakan untuk mengunci warna sekaligus dipergunakan untuk mencuci benang.

Terdapat juga bahan dari akar-akaran. Akar mengkudu menghasilkan warna cokelat hingga warna merah. Secang, digunakan untuk menghasilkan warna merah juga. Dari daun, terdapat daun ketapang yang menghasilkan warna abu-abu. Akan tetapi, bila dipadukan dengan bahan lain bisa juga menghasilkan warna hitam. Mahoni menghasilkan warna cokelat, kayu kuning mendapatkan warna kuning.

Semua bahan yang digunakan seringkali juga dipadukan untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Hampir semua bahan mendapatkan warna dengan perlakuan yang sama, yaitu direbus hingga air rerbusan di dasar wajan mengental dan siap digunakan.

Sayangnya, kata pria 31 tahun itu, saat ini tidahk ada pengrajin di Kabupaten Samosir yang menggunakan pewarna alami . Dia sendiri mengaku, menggunakan pewarnaan alami tersebut, berdasarkan pesanan ulos kepadanya.

TERKAIT  The Kaldera, Keindahan yang Agung

Sepwan menuturkan, pewarnaan alami dengan celupan yang berulangkali akan menghasilkan ulos yang sangat cantik dan tahan lama. Satu kelemahannya yaitu, tidak boleh terlalu sering dijemur di bawah matahari terik.

Kepada para pengrajin peserta kegiatan dari tanggal 11 – 16 Oktober di Samosir itu, Sepwan berpesan agar mereka membuat ulos tenun tradisional dengan pewarnaan alami. Saat ini, sangat susah menemukan tenunan pewarnaan alami dan tenunan tangan, karena jauh lebih banyak dan gampang membuatnya dengan mesin.

Dari beberapa ulos, Sepwan setuju kalau ulos Mangiring sangat menarik sebagai bahan utama pembuatan pakaian atau bahkan asesoris lainnya.

 

Penulis   : Febe
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU