Bagaimana BRI Meningkatkan Digitalisasi dan Inklusi Keuangan di Indonesia?

NINNA.ID-Usaha mikro dan kecil telah menjadi fokus upaya inklusi keuangan. Salah satu pembelajaran dari pandemi ini adalah bahwa digitalisasi merupakan masa depan dan inklusi keuangan juga demikian.

Akan tetapi, digitalisasi inklusi keuangan menghadirkan tantangan di Indonesia, dimana tingkat literasi digital dan keuangan masih rendah. Berikut cara BRI di Indonesia berupaya mengatasi sejumlah tantangan tersebut.

Meskipun akses Indonesia terhadap produk dan layanan keuangan formal telah meningkat pesat dalam satu dekade terakhir, indeks literasi keuangan Indonesia masih relatif rendah, yaitu kurang dari 40 persen saat ini.

Tantangan Inklusi Keuangan

Di Indonesia terdapat lebih dari 60 juta usaha ultra-mikro dan mikro. Usaha ini merupakan kekuatan pendorong utama perekonomian Indonesia, yang menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia dan menyerap 97 persen angkatan kerja.

Akan tetapi, kurangnya akses terhadap layanan perbankan formal telah menghambat kemampuan mereka untuk mengakses modal. Hal tersebut membatasi potensi pertumbuhan usaha.

Dalam studi terbaru yang dilakukan Kementerian Koperasi, lebih dari separuh usaha ultra-mikro dan mikro yang disurvei masih belum terlayani secara finansial.

Banyak di antara mereka yang tidak memiliki rekening bank, terlilit hutang, dan sebagian besar bertransaksi secara tunai.

BERSPONSOR

Kondisi tersebut menyulitkan mereka memiliki riwayat kredit yang sah yang sebenarnya akan memberikan mereka akses terhadap pendanaan formal ketika dibutuhkan.

Meski Covid-19 berdampak buruk terhadap kehidupan, sisi lain Covid telah mempercepat penerapan digitalisasi di Indonesia.

Saat ini, aksesibilitas internet mendekati 53 persen dari populasi penduduk Indonesia.

Digitalisasi layanan keuangan memberikan peluang untuk menuntaskan tantangan inklusi keuangan dan menetapkan landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

- Advertisement -

Indonesia telah menetapkan target untuk mencapai 90 persen inklusi keuangan pada tahun 2024 naik dari 76 persen dari tahun sebelumnya. Usaha ultra-mikro dan mikro menjadi fokus utama dari visi ini.

Mengatasi Kesenjangan Inklusi Keuangan di Indonesia

Inklusi Keuangan

Untuk mengetahui karakteristik nasabah mikro, pada tahun 2020 BRI melakukan riset yang memberikan tiga wawasan dalam menetapkan strategi inklusi keuangan digital.

BRI melakukan penelitian yang memberikan tiga wawasan dalam menetapkan strategi inklusi keuangan digital.

BRI
Alasan utama nasabah ultra mikro dan mikro memilih lembaga keuangan Screenshot dari dokumen BRI

Pertama, nasabah memiliki pengetahuan yang terbatas tentang produk keuangan selain rekening tabungan.

Kedua, karena mereka tidak memiliki pendapatan yang stabil, mereka merasa tidak nyaman dengan produk pinjaman tradisional dari bank.

Ketiga, mereka memerlukan lembaga keuangan yang dapat meningkatkan kepercayaan mereka.

Sebagai bank dan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia, BRI sangat fokus dalam memanfaatkan digitalisasi untuk memperjuangkan inklusi keuangan melalui tiga inisiatif penting: perbankan tanpa cabang berbasis agen, digital advisory atau penasihat digital, dan ekosistem bisnis digital.

1. Perbankan tanpa Cabang Berbasis Agen

BRI telah mengembangkan Agen BRILink, yaitu model bisnis berbasis agen yang memungkinkan nasabah terpilih untuk memberikan layanan perbankan, termasuk tabungan dan transaksi penting.

Agen-agen ini melayani nasabah melalui saluran digital seperti mesin pembaca kartu atau aplikasi seluler yang didukung oleh bank. Agen BRILink menjadi modal utama dalam meraih kepercayaan nasabah terhadap keamanan transaksinya.

TERKAIT  Informasi Prakiraan Hilal saat Matahari Terbenam Tanggal 20 April 2023, Penentu Awal Bulan Syawal 1444 H

Penggunaan saluran digital menjadikan inisiatif ini sebagai aspek kunci dalam memperkenalkan layanan keuangan digital kepada mereka yang sebelumnya belum mengenalnya.

Dengan mengadopsi teknologi digital untuk membantu nasabah bertransaksi, Agen BRILink menjangkau masyarakat yang dulunya tidak memiliki akses terhadap layanan keuangan, terutama di daerah terpencil.

Saat ini BRI memiliki lebih dari 500.000 Agen BRILink di lebih dari 53.000 desa di seluruh nusantara. Pada tahun 2021, BRI melakukan lebih dari 900 juta transaksi, dengan volume lebih dari $81 miliar.

2. Penasihat Digital/Digital Advisory

Literasi keuangan dan digital yang rendah membuat mereka yang memiliki pemahaman rendah tentang produk keuangan digital rentan terhadap penipuan dan pencurian identitas.

Kurangnya literasi digital telah menjadi faktor utama di balik permasalahan keamanan siber, yang semakin menyoroti perlunya tidak hanya pendidikan finansial tetapi juga digital.

Hingga saat ini, BRI telah memobilisasi lebih dari 27.000 petugas pinjaman kami untuk menjadi penasihat digital yang dapat membantu dan mendidik nasabah BRI dalam mengakses dan melakukan transaksi keuangan dengan aman melalui aplikasi mobile banking yang aman. Ini adalah peran yang sederhana namun penting.

Seiring dengan aktifnya kami mendorong nasabah di segmen ultra-mikro dan mikro untuk menggunakan layanan inklusi keuangan digital, kami juga harus melindungi mereka dari potensi penipuan yang dapat berdampak signifikan terhadap kesejahteraan mereka.

3. Ekosistem Bisnis Digital

Kebutuhan untuk melakukan transaksi keuangan secara digital harus tertanam dalam aktivitas sehari-hari nasabah untuk memastikan keberlanjutannya.

Tiga pionir inklusi keuangan: Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pegadaian, pemberi pinjaman gadai terbesar di Indonesia, dan PNM – pemberi pinjaman kelompok terbesar di Indonesia, yang berfokus pada pemberdayaan perempuan – telah bekerja sama untuk menciptakan ekosistem ultra-mikro.

Bersama-sama, mereka bercita-cita menjadi salah satu lembaga keuangan mikro terbesar di dunia, yang membawa lebih dari 30 juta nasabah keluar dari kemiskinan selama empat tahun ke depan.

Dengan lebih dari 18.000 cabang di seluruh Indonesia, ekosistem ini memberdayakan usaha kecil, petani, nelayan, dan pedagang pasar basah untuk mengakses layanan keuangan dan mengembangkan usaha mereka.

Lebih lanjut, ekosistem ini menawarkan portofolio produk yang komprehensif mulai dari pinjaman kelompok, produk tabungan dan investasi. Inovasi-inovasi ini memungkinkan ekosistem untuk melayani rantai nilai end-to-end (mulai dari produksi, distribusi, dan konsumsi) telur, tebu, dan padi di seluruh Jawa.

Ada peluang menarik di masa depan untuk mencapai inklusi keuangan. Akan tetapi perusahaan tidak akan mampu mencapainya tanpa memanfaatkan kekuatan digitalisasi.

Penyelesaian tantangan ini sangat penting untuk memastikan bahwa setiap orang, terutama mereka yang berada di segmen mikro dan ultra-mikro, memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan keuangan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mengembangkan bisnis mereka dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Penulis: Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU