spot_img

Ayam Padar Panggang Khas Batak, Sensasi Pedasnya Sampai ke Ubun-ubun

NINNA.ID – SAMOSIR

Ayam padar salah satu kuliner khas suku Batak yang memiliki ciri khas sendiri. Bahan utama masakan ini adalah ayam kampung yang dipanggang lalu disiram dengan bumbu penuh rempah. Paduan kaya rempah itu menghasilkan rasa lezat dan sensasi pedas yang berbeda.

Untuk mengikat kelezatan rasa dan sensi pedas itu, orang Batak menambahkan darah ayam. Bagi yang tidak bisa atau memang berpantang memakan bumbu bercampur darah ayam, ada juga panggang pinadar tanpa darah.

Salah satu tempat yang menyediakan ayam pinadar  tanpa darah ini, ada di Jalan Lingkar Simbolon sekitar air panas, Kecamatan Pangururan. Di sana ada satu rumah makan nasional Sampean Uli, yang menyediakan ayam pinadar ini.

Napinadar di rumah makan  Sampean Uli, mempertahankan cita rasa asli, lezat pedas yang sangat menggugah selera makan. Sensasi rasa pedas yang unik itu, membuat keringat bercucur saat menyantapnya. Bukan hanya wajah yang basah oleh keringat, bahkan ubun-ubun kepala ikut mencucurkan keringat.

Rasa pedas unik itu yang sering dicari oleh penikmat ayam pinadar ini. Untuk menggambarkan kenikmatannya, penikmat lokal sering berucap dalam bahasa Batak, “Mangottak siak na bah” yang berarti pedasnya luar biasa menyentak kepala.

Pemilik rumah makan Sampean Uli, Ibu Siahaan menuturkan, untuk mengolah ayam napinadar ini,  kampung yang sudah dibersihkan dimasak dengan cara dipanggang. Setelah ayam matang, aneka bumbu dan rempah seperti cabai, andaliman, bawang putih dan lainya dihaluskan dan dimasak, lalu dilumurkan ke atas ayam yang sudah matang tadi.

TERKAIT  Kassang Rondam Oleh-oleh Khas dari Pangururan

Untuk menikmati ayam pinadar yang sudah siap saji ini, masih ada bumbu lain dalam keadaan mentah. Bumbu itu terdiri dari bawang merah, cabai rawitd an jahe. Pedasnya bumbu siram yang dilumurkan ke daging ayam tadi, akan semakin menjadi-jadi saat gigitan bawang merah mentah, cabai rawit dan irisan jahe. Sensasi pedasnya unik dan menggetarkan.

“Biasanya napinadar pakai ayam kampung campur darah, tapi di warung kita ini tidak pakai darah, melainkan pakai bumbu alami. Ayam padar juga dilengkapi soup, sehingga rasanya semakin nimat. Pokoknya mak nyoss…,” jelas Ibu Siahaan kepada NINNA.

“Kali pertama rasa yang menusuk lidah saat makan napinadar adalah rasa pedas yang menggetarkan. Rasa pedas ayam padar ini sulit dilupakan. Rasanya yang khas dari andaliman sangat terasa membuat hidup lebih bersemangat,” begitu pengakuan J Tamba, penikmat ayam pindar yang ditemui NINNA di sana.

“Bang. Orang Batak biasanya menyantap ayam napinadar dengan cabai rawit, bawang merah, irisan jahe. Minumnya bukan air putih tapi perasan anggir (jaruk purut) atau jeruk nipis. Agar rasa pedasnya lebih terasa,” ujar Tamba sambil mengusap keringat yang masih bercucuran membasahi wajahnya.

Napinadar, demikian olahan ayam kampung ini sering disebut oleh orang Batak,  sering juga melengkapi acara adat atau pesta syukuran orang Batak.

Penulis    : Sartono Sihotang

Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU