Toba, NINNA.ID– Di antara lembutnya embusan angin Danau Toba, Desa Pardomuan di Kecamatan Ajibata berdiri tenang. Sekilas, desa ini tampak seperti kampung biasa di pesisir Danau Toba.
Tapi, bagi mereka yang mengenal sejarahnya, Desa Pardomuan adalah salah satu titik penting dalam perjalanan panjang Marga Sirait, salah satu dari empat marga keturunan Narasaon—leluhur yang dulu dianggap mirip kodok, tapi justru menurunkan generasi yang mengakar kuat di Tanah Batak.
Dari Sibisa, Jejak Leluhur Dimulai
Kisah ini berawal dari Datu Pejel, seorang dukun sakti dari Limbong, Samosir, yang gemar berburu burung.
Perjalanannya membawa ia ke wilayah yang kini disebut Sibisa, tempat sunyi yang akhirnya menjadi saksi pertemuan spiritualnya dengan Boru Tantan Debata—perempuan yang diyakini sebagai titisan dari Mulajadi Na Bolon.
Dari cinta mereka lahirlah Narasaon, anak laki-laki yang disebut mirip kodok. Ia dibuang oleh ayahnya, diselamatkan ibunya, lalu tumbuh menjadi pemuda tampan dan bijak.
Narasaon menikah dengan sepupunya dari Limbong, dan dari keturunan mereka lahirlah kembar “lambutan” yang kemudian dikenal sebagai Raja Mangatur dan Raja Mangarerak.
Raja Mangatur memiliki tiga anak laki-laki: Raja Sitorus, Raja Sirait, dan Raja Butar-Butar.
Marga Sirait adalah anak tengah yang konon memiliki karakter tegas, pengambil keputusan, dan pelindung dalam keluarga besar mereka.
Dari Sibisa, anak-anak Narasaon menyebar ke berbagai penjuru, membuka perkampungan, ladang, dan ‘huta-huta’ baru.
Menyebar ke Ajibata: Sirait di Pardomuan
Salah satu daerah yang menjadi tempat persinggahan generasi Sirait adalah Desa Pardomuan, Kecamatan Ajibata.
Letaknya hanya beberapa kilometer dari Sibisa, namun perannya begitu strategis dalam persebaran marga ini.
Konon, beberapa generasi keturunan Raja Sirait pindah ke Desa Pardomuan karena wilayah ini lebih dekat ke akses danau, cocok untuk bercocok tanam dan menangkap ikan.
Pardomuan menjadi tempat berlabuh mereka yang ingin membangun kehidupan baru namun tetap dalam lingkaran tanah leluhur Narasaon.
Kini, jika berkunjung ke Pardomuan Ajibata, Sobat Ninna akan dengan mudah mendapati marga atau nama belakang Sirait tercatat di banyak kepala keluarga, di sekolah, gereja, dan lembaga adat.

Warisan yang Terus Hidup
Marga Sirait tidak hanya menjadi identitas di atas kertas, tetapi menyatu dalam denyut kehidupan masyarakat Pardomuan.
Dalam adat Batak, marga bukan hanya nama belakang, tapi penunjuk asal, tanggung jawab sosial, dan jalinan solidaritas.
Di Pardomuan, anak-anak muda Sirait tumbuh dalam semangat gotong royong, menjaga huta, merawat ladang, dan aktif dalam kegiatan gereja maupun adat.
Mereka tahu, setiap langkah mereka adalah perpanjangan dari perjalanan panjang yang bermula dari seorang anak yang dulu dianggap kodok—tapi justru menjelma leluhur para pemimpin.
Kini, seiring berkembangnya kawasan wisata di Kawasan Danau Toba, kisah Marga Sirait dan jejak Narasaon di Sibisa hingga Ajibata menjadi aset budaya yang tak ternilai.
Cerita ini bukan hanya milik masa lalu, tetapi menjadi bekal untuk generasi selanjutnya agar tahu dari mana mereka berasal, dan bagaimana mereka harus melangkah ke depan.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



