spot_img

Asal-Usul Doloksanggul

NINNA.ID – Seorang teman memposting sejarah Doloksanggul di Humbang Hasundutan pada beranda Facebooknya. Tak ada yang baru, kecuali tafsir. Dan, tafsir itu bagi saya sangat menarik. Apa tafsir itu? Sebelum kita bahas, mari saya ceritakan sedikit kisah Doloksanggul di sini supaya kita sama-sama tahu.

Begini ceritanya. Suatu ketika ada pesta di sebuah tempat. Tempat itu berada di dataran tinggi. Satu kelompok tamu datang dari satu tempat lain. Entah dari mana. Tidak ada sumber yang jelas. Nah, di pesta itu, mereka memakai sanggul. Singkatnya, pesta pun usai. Dan, kelompok tamu itu kembali pulang ke tempatnya.

Di tengah perjalanan, seorang ibu dari kelompok tamu itu terkejut. Ternyata, ada yang tinggal. Yang tinggal adalah sanggul. “Oh, sanggulku tinggal. Tinggal di bukit itu,” katanya. Bukit adalah dolok. Sejak peristiwa itu, jadilah tempat yang berada di ketinggian itu disebut dengan kata Doloksanggul.

Begitulah cerita rakyat bertutur. Cerita rakyat tentu bukan sejarah. Kita tak bisa mengukurnya dengan perangkat sejarah. Karena itu, kita pasti akan kesulitan siapa ibu itu, darimana datangnya, kapan, dan bagaimana? Karena bukan sejarah, ibu itu pun menjadi anonim. Dia bisa siapa saja. Dia bisa bahkan tidak ada, kecuali sebatas tokoh fiksi yang imajinatif.

Sebagaimana diketahui, cerita rakyat dominan adalah jawaban atas pertanyaan yang sukar dijawab.

Dengan kata lain, cerita rakyat hanya alasan kita untuk berusaha menjawab apa yang tak diketahui. Tetapi, mari berpikir baik. Sebab, meski imajinatif, bahkan fiktif, cerita rakyat kadang berakar dari kebenaran. Dalam hal ini, mari berpikir baik: ibu yang ketinggalan sanggul itu adalah fakta dan nyata.

Nah, jika fakta, pertanyaan baru akan muncul: siapa ibu itu? Arti siapa di sini tidak sesederhana biodata. Artinya, ini tidak sedangkal nama, tempat lahir, agama, dan sebagainya. Kita harus lebih naik ke level selanjutnya: status sosial. Dengan tinggalnya sanggulnya lantas mengubah nama tempat tersebut, tentu sudah cukup menjadi bukti tafsir bahwa status sosial si ibu itu tinggi.

Pertama, ibu itu tak sembarangan. Logika kita bisa bermain. Sebelum datang ke tempat pesta itu, tempat itu pasti sudah punya nama, tidak mungkin kosong. Di sinilah misterinya. Bagaimana mungkin karena sanggul seseorang ketinggalan, tempat yang bernama itu akhirnya berganti nomenklatur? Sudah tak bisa dibantah, ibu itu bukan sembarangan bukan? Kalau bukan sembarangan, ibu itu pasti berasal dari keluarga kerajaan.

TERKAIT  Nahum Situmorang, Komponis Batak yang Dilupakan

Kedua, ibu itu mungkin seorang dukun atau sibaso. Dulu, sibaso memang memakai sanggul. Tepatnya, sanggul na ganjang. Sanggul adalah simbol kebersihan. Ketiga, ibu itu orang kaya. Sebab, pada saat itu, sanggul masih sangat jarang. Sanggul adalah budaya yang termasuk modern. Sanggul bukan milik orang Batak, bahkan bukan orang Indonesia.

Dikabarkan, sanggul baru masuk ke Nusantara pada abad ke-15. Lantas, apakah sanggul masuk ke Doloksanggul di abad yang sama juga ke Nusantara, yaitu pada abad ke-15? Kalau pada abad ke-15, maka ada dua kemungkinan besar. Pertama, ibu yang membawa sanggul tersebut adalah dari luar Batak. Ini sangat mungkin. Tetapi, keraguan muncul: apakah mungkin orang luar Batak berpesta pada saat itu di Doloksanggul?

Kedua, ibu dari orang Batak. Tetapi, tetap saja itu bukan ibu yang sembarangan. Ia mungkin dari kerajaan di daerah Batak. Maksud saya, kita rasanya perlu melacak: siapa ibu itu? Dia menghadiri pesta yang mana dan pesta marga apa? Atau, apakah penamaan kota Doloksanggul muncul begitu saja tanpa makna dan sejarah? Rasanya tak mungkin.

Sebab, tradisi pembukaan kampung di Tanah Batak ketat dengan pemberian nama. Nama kampung bahkan punya silsilah. Dimulai dari huta, lumban, sosor, dan bahal. Tak akan ada sosor sebelum ada lumban. Tak akan ada Lumban sebelum ada huta. Artinya, ada sejarah yang terputus yang mesti dilacak. Atau, jangan ini hanya sebatas simbol saja?

Soalnya, secara berurutan, paling tidak ada empat nama tempat yang menggunakan kata dolok. Dimulai dari Dolok Margu. Sekitar 5 kilometer lagi, tibalah kita di Dolok Sanggul. Berjalan terus hingga 8 kilometer, ada pula Dolok Na Bolon. Sekitar 10 kilometer lagi, juga ada Dolok Partangisan? Entahlah.

Tetapi, sejauh ini, cerita yang mengakar lebih pada ketinggalan sanggul. Dan, ketika sudah di tengah perjalanan, seorang ibu itu teringat. Teringat bahasa Bataknya adalah tarsunggul. Jadi, ibu itu tarsunggul di suatu tempat. Bahasa selalu berubah. Mungkin, suatu kali nama tempat itu adalah Doloksunggul. Lama lama jadi Doloksanggul. Namun, misteri yang belum terpecahkan: siapa sih ibu itu, sampai bisa memberi nama atas dasar kecerobohan?

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU