spot_img

Asal-Usul Aksara Batak dan Mengapa Tidak Diajarkan?

NINNA.IDBatak punya aksara. Bentuknya mirip di seluruh puak. Bentuk yang mirip ini cukup membuktikan bahwa pada dasarnya kita hidup dari akar yang sama. Bahwa pada akhirnya ada perbedaan itu hanya varian dan kreativitas. Bukankah kopi akan berbeda rasanya jika tumbuh di tempat yang berbeda?

Namun, walau rasanya berbeda, kopi tetaplah kopi. Identik dengan itu, Batak tetaplah Batak. Pesannya simpel: semakin kita mengingkari bahwa kita bukan bagian dari yang lain, saat itu kita sebenarnya sedang berbohong besar semata demi motif aktualisasi diri untuk mengatakan: aku ini berbeda dari mereka loh!

Tetapi, begitulah pakemnya. Semakin suka kita mencari perbedaan itu artinya kita ada banyak persamaan. Bukankah anak kembar akan selalu mencari perbedaan dan bukannya persamaan? Sebaliknya, semakin suka kita mencari persamaan itu artinya terlalu sedikit persamaan sehingga dicari hingga ke akar-akarnya, sampai ke jalur DNA, misalnya.

Baiklah, baiklah, baiklah. Semoga kita sadar bahwa di balik kekuatan untuk mengatakan aku berbeda sebenarnya terkandung makna aku bersama denganmu. Jadi, pada intinya dengan tulisan ini kepada kita mau dipesankan: Batak apa pun itu pada akhirnya tetaplah Batak yang sesungguhnya dengan berbagai variasi dan kreativitas kedaerahan.

Setidaknya, dari simbol aksara meneguhkannya. Tetapi, berbicara aksara Batak, kita perlu berbangga. Tak banyak suku yang punya aksara. Dari yang tak banyak itu, kita adalah salah satunya.

Aksara Batak tidak sama dengan huruf latin. Bentuk aksara kita cenderung silabis: “ma”, “na”, “ra”, “ta” dan sebagainya.

Kita tak menyebutnya “m”, “n”, “r”, “t” sebagai huruf. Unik meski tidak terlalu kaya. Walau begitu, aksara Batak ini menjadi bukti kecil bahwa dulu moyang kita sudah literat untuk tidak mengatakan cerdas. Dan, memang, begitulah adanya: aksara menjadi lambang milik orang cerdas. Kita menyebutnya dulunya dengan “pande”.

“Pande” ini punya banyak bentuk. Tetapi, umumnya mereka adalah bagian dari kerajaan atau setidaknya datu, rahib, dukun. Dengan aksara, mereka menuliskan berbagai resep di tulang, di kayu, atau di kulit kayu (laklak). Yang populer tentu adalah di kulit kayu sehingga kita sering menyebutnya buku laklak atau pustaha laklak.

Kita sebenarnya seperti orang Cina. Kita tentu tak asing dengan frasa “obat cina”. “Obat cina” tidak seilmiah obat kimiawi. Tetapi, “obat cina” sering jauh lebih manjur. Untuk penyakit tifus, misalnya, kita dominan lebih percaya pada “obat cina” yang harganya relatif terjangkau. Sesungguhnya, para “pande” kita dulunya punya resep-resep itu di buku laklak dan medium lainnya.

Sayang, moyang kita dulu tak suka berbagi, apalagi mewarisi. Maka, banyak resep itu yang hilang. Begitu buku laklak dijarah oleh penjajah, segala ingatan tentang resep itu pun akhirnya ikut punah. Pun dengan sejarah. Dulu, misalnya, dalam studi etnografi kami bersama Balai Arkeologi Sumatera Utara bahwa Dinasti Sisingamangaraja mempunyai sejarah tertulis dalam aksara.

TERKAIT  FGD Titik Nol Batak tak Berhasil

Sejarah itu tak diwariskan. Ia dibuat khusus milik kerajaan dan para pande. Maka, ketika buku itu dijarah penjajah, kita pun seperti kehilangan sejarah. Artinya, ada sifat buruk dari leluhur yang mesti kita awaskan dari diri kita, yaitu egois dalam berbagi. Karena itu, sebaiknya generasi tua saat ini berbagi ilmu yang mungkin mereka punya.

Pembelajaran aksara menjadi salah satunya. Tentu, pelajarannya tak sebatas teknis, melainkan ideologis-historis. Arti ideologis-historis di sini bukan sebatas bagaimana menulis “horas” dari huruf Latin menjadi aksara Batak. Kita harus sampai pada penceritaan sejarah bagaimana dulu leluhur kita menulis di tulang belulang hingga kulit kayu. Ada apa sehingga dituliskan di sana dan pula disembunyikan?

Ada berita baik. Sejarah belum bebar-benar hilang. Masih ada yang bisa dikenang. Dari tutur lisan aksara Batak, misalnya, kita tahu bahwa aksara ditemukan oleh seorang yang pernah diusir dari rumah karena sebuah ingatan yang dangkal: lupa di mana pahat disimpan. Yang lupa itu adalah Mangara Pintu.

Ia pun takut. Lalu, dimarahi orang tua. Dan, terusir dari rumahnya. Suatu saat, orang sakti melihatnya. Orang sakti itu hendak membunuhnya. Ia pasrah. Katanya kepada orang sakti itu: aku pasrah karena aku bukan siapa-siapa dan tak berguna. Orang sakti itu pun iba. Atas ketidaksiapa-siapaan Mangara Pintu, orang sakti itu mengisinya dengan berbagai ilmu.

Di tempat lain, sosok gaib juga melihatnya. Sosok itu dihadirkan dalam bentuk harimau. Lagi-lagi Mangara Pintu pasrah. Ia berkata: aku kosong, aku bukan siapa-siapa, aku pasrah. Atas dasar kekosongan itu, sosok gaib tersebut pun kembali iba. Ia mengisi Mangara Pintu dengan berbagai bekal ilmu.

Puncaknya, Mangara Pintu melihat bidadari. Ia berlari. Mengejar salah satu bidadari. Ia pun dibawa terbang ke langit. Di sana, Sang Pemilik Ilmu mengisinya dengan berbagai ilmu. Itulah puncak dari cerita itu. Artinya, selalu ada perasaan kosong untuk tidak saja bebas dari maut, tetapi lebih penting: diberi kesempatan mengisi hidup.

Sayang, dalam perjalanannya, pembelajaran aksara ini tak ditularkan. Ia elitis di dukun-dukun atau pande. Ada dua kemungkinan mengapa aksara ini dulu tidak diajarkan. Pertama, ini milik elitis. Kedua, para pembelajar tidak merasa kosong atau pasrah. Lalu kini, di masa modern kita perlu bertanya: ada berapa kemungkinan mengapa aksara tak diajarkan secara serius? Coba sebutkan!

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU