spot_img

Anyaman Pandan “Baion” yang Bersejarah Bagi Masyarakat Tipang

HUMBAHAS – Anyaman berbahan pandan duri atau dalam bahasa Batak disebut baion, memiliki nilai historis tersendiri bagi masyarakat Desa Tipang, keturunan Toga Simamora dan Sihombing. Leluhur kedua marga besar ini, Boru Lontung, merupakan seorang perempuan bertangan terampil dan kreatif.

Boru Lontung ini melahirkan dua toga besar yang menjadi induk dari tujuh marga di Desa Tipang yaitu Purba, Manalu, Debata Raja, Silaban, Lumbantoruan, Nababan dan Hutasoit. Dia dikisahkan merupakan sosok puan yang kreatif. Tangannya tak berhenti berkarya.

Dalam kesehariannya, dia gemar mengolah tumbuhan baion (pandan duri), menjadi benda-benda bermanfaat. Di Tipang, baion banyak tumbuh subur dan dikembangbiakkan untuk daunnya.

Kegemaran mengolah baion itu membuatnya disebut, Siboru Pandan Nauli, yang artinya, perempuan pengrajin pandan nan jelita.

Dari tangan terampilnya, baion diolah menjadi tandok (bahul-bahul) dan amak. Dua produk dari baion ini, tak dapat dilepaskan dari tradisi Batak. Jika tandok atau bahul-bahul berfungsi sebagai wadah bagi berbagai benda yang bernilai, maka amak pandan berfungsi sebagai alas duduk seseorang yang sangat dituakan, seperti para raja dan para tetua.

Baion  dalam tradisi kebatakan, bermakna suatu informasi yang luas. Ia melekat dalam seluruh aspek hidup masyarakat Batak dari jaman dahulu.

Para pengrajin baion, saat ini jumlahnya terus berkurang di Desa Tipang. Hadirnya mesin-mesin pencetak tikar ataupun tandok, perlahan telah menggantikan tangan-tangan terampil dari para lanjut usia, yang biasanya menekuni profesi ini. Sekarang ini, semakin sulit menemukan para pengrajin baion itu, terlebih kurangnya minat generasi muda untuk menjaganya.

TERKAIT  ZRM Instrument, Rumah Produksi Alat Musik Tradisional Batak

Untuk menjadikan baion menjadi bahan tandok, tikar atau gajut, diperlukan waktu dan kesabaran. Setelah dipetik dari pohonnya, baion harus dikeringkan, dibersihkan, dilemaskan agar bisa dianyam.

Saat ini, di Desa Tipang, menganyam baiona dianggap sebagai tradisi yang wajib dilestarikan sebagai bagian dari jati diri orang Batak. Produk anyaman baion, banyak diadopsi dalam pepatah Batak.

Pepatah Batak paling santer untuk menggambarkan karakter seorang raja bahkan dikaitkan dengan produk dari baion.
Parbahul-bahul Nabolon;
Paramak Sobalunon;
Parsangkalan Soramahiang;
Partataring Soramintop.

Terjemahan bebasnya kira-kira demikian.
Seorang raja adalah seseorang yang berpikiran terbuka;
Yang siap menjamu orang lain secara materil maupun moril;
Yang mampu mendengarkan perkataan yang terucap maupun tidak terucap;
Yang ketika berbicara, sulit untuk tidak didengarkan;
Yang memberi lebih dari yang dibutuhkan;
Yang selalu ada ketika dibutuhkan.

Selama orang Batak masih ada di muka bumi ini, selama itu pula pepatah itu akan berlaku. Keseluruhan nilai yang dikandung dalam pepatah di atas lebih dari cukup untuk menegaskan, betapa pentingnya anyaman pandan baion, dilestarikan di Tanah Batak.

Saat kunjungan Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno ke Desa Tipang, beberapa orang tua yang masih terampil mangaletek (istilah untuk pengayam) menjadi daya tarik tersendiri yang menjadikan Desa Tipang semakin unik.

Penulis     : Gomgom Sihombing
Editor         : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU