NINNA.ID-Pengakuan Danau Toba sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark adalah kebanggaan besar bagi Sumatera Utara dan Indonesia. Status ini menegaskan bahwa kawasan Danau Toba memiliki nilai geologi, budaya, dan lanskap yang diakui dunia.
Kita patut mengapresiasi kerja yang telah dilakukan oleh Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark dalam mendorong pengelolaan kawasan, memperkuat identitas geosite, dan mempromosikan Danau Toba sebagai destinasi yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat nilai edukasi dan konservasi.
Namun, sebagai bagian dari masyarakat Sumatera Utara, saya melihat masih ada jarak antara status global yang disandang dengan realitas lokal yang kita rasakan sehari-hari.
Pemahaman masyarakat mengenai geopark masih sangat terbatas. Banyak yang sekadar pernah mendengar istilah geopark, tetapi belum memahami makna dan peluang yang terkandung di dalamnya.
Padahal, konsep geopark sesungguhnya membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang berjalan seimbang dengan pelestarian alam dan penguatan budaya lokal.
Interpretasi geopark di sejumlah titik wisata juga masih belum maksimal. Wisatawan sering kali menikmati keindahan panorama, tetapi belum mendapatkan pengalaman yang utuh mengenai cerita geologi, sejarah bumi, serta hubungan erat antara alam dan kehidupan masyarakat di kawasan ini.
Edukasi publik masih perlu diperkuat agar geopark tidak berhenti sebagai label, melainkan menjadi gerakan bersama.
Saya melihat sektor UMKM dan pariwisata mulai tumbuh di berbagai kawasan Danau Toba, namun pertumbuhannya belum merata.
Masih banyak masyarakat yang belum merasakan secara langsung manfaat ekonomi dari status geopark ini.
Di sinilah pentingnya penguatan kapasitas masyarakat, baik melalui pelatihan, pendampingan, maupun penyediaan ruang partisipasi yang lebih luas.
Menjelang Geofest Nasional 2026 di Sumatera Utara, kita memiliki momentum penting untuk memperkuat kesiapan daerah.
Event ini tidak boleh hanya menjadi seremoni, tetapi harus mampu mendorong kesadaran kolektif bahwa geopark adalah milik bersama. Masyarakat perlu terlibat, memahami, dan merasakan manfaatnya secara nyata.
Sebagai Wakil Ketua DPP Perisai Rakyat Nusantara, saya meyakini bahwa kolaborasi adalah kunci. Pengelola geopark, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat perlu berjalan bersama.
Kita perlu memastikan bahwa Danau Toba menjadi contoh praktik pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan memperkuat identitas kawasan.
Status global telah kita raih. Tantangan kita berikutnya adalah memastikan bahwa pengakuan tersebut benar-benar memberi arti di tingkat lokal.
Geopark bukan sekadar pengakuan internasional, tetapi jalan untuk membangun masa depan yang lebih seimbang antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam.

Penulis: Johannes Sitompul
Editor: Damayanti Sinaga



