spot_img

Air Terjun Corona, Ditemukan di Saat Pandemi

NINNA.ID – TOBA

Ini adalah kisah ku (penulis) bersama Fernando, Giat dan belakangan ada Astri. Bermula dengan adanya kebijakan pemerintah dalam penerapan protokol kesehatan dan pembatasan kegiatan di pertengahan tahun 2020, kami sepakat menjelajah bukit barisan di seputaran Lumbanjulu, Kabupaten Toba.

Sebenarnya penjelajahan ini minim perencanaan, semata hanya karena jenuh lalu berinisiatif mencari kegiatan di luar. Salah satu cara keluar dari aturan pandemi adalah menjelajah alam bebas.

Rute yang kami pilih menyusuri Sungai Siarsik-arsik, sungai yang membelah kota kecil Lumbanjulu. Pagi itu, tim kecil bergerak menuju komplek Kantor Camat Lumbanjulu. Start dari tempat yang sudah dimantapkan dengan rabat beton ini, merupakan jarak terdekat menuju Sungai Siarsik-arsik, yang akan kami susuri sampai ke hulu di kaki gunung.

“Seperti namanya, sungai Siarsik-arsik ini terbilang aneh sebab di beberapa titik tertentu sungai ini bisa terlihat kering. Namun jangan terpedaya, sungai itu hanya kering di permukaan, sebab puluhan meter kemudian, airnya sudah muncul kembali ke permukaan dan mengalir seperti biasa. Sepertinya banyak mata air di sepanjang alur sungai” 

Sepanjang jalan seturut aliran sungai, suara gemericik air sungai menyamarkan suara langkah kaki kami yang sesekali mematahkan ranting atau kayu yang sudah lapuk. Suara kicauan aneka burung saling bersahutan dan kerih hewan primata seakan menolak kehadiran kami. Tempat itu, memang masih bagian dari belantara.

Setelah menjauhi aliran sungai, perjalanan kami harus mendaki selama lima menit, dan sampai di suatu tempat bernama Hariara Sitambor.

Dari Hariara Sitambor, perjalanan mendaki kami lanjutkan. Kali ini kami harus menjaga keseimbangan tubuh, karena pijakan kaki kami hanya bebatuan. Berjalan penuh konsentrasi di belantara, memberikan sensasi tersendiri.

Hampir 20 menit berjalan kaki, kami mendengar seperti ada suara gemericik air. Kami saling melihat, penuh semangat. Kami yakin akan melihat air terjun di sekitar tempat itu. Tentu yang belum pernah kami lihat sebelumnya.

TERKAIT  Pantai Lumban Bulbul Siap Menggoda Wisatawan

Dengan langkah lebih cepat, kami lanjutkan perjalanan. Semakin jauh melangkah, bukanya ketemu air terjun malah suara itu makin tidak terdengar lagi. Kami kecewa.

“Tadi itu mungkin hanya suara angin, begitu kalau di hutan. suara angin terdengar bagai gemuruh.” Penjelasan Anggiat yang lebih berpengalaman itu, melengkapi rasa kecewa.

Menjelang sore, setelah menghabiskan waktu siang di hutan, kami pun pulang lewat rute yang sama. Namun feeling ku mengatakan ada air terjun di sana.

Air Terjun Corona
Air terjun Corona di antara pohon di belantara Lumbanjulu Kabupaten Toba.(Foto/Asmon)

Terusik rasa penasaran itu, petualangan kedua ke tempat itu kami ulangi seminggu kemudian. Masih dengan orang-orang yang sama ditambah seorang wanita tangguh, Astri yang sudah berpengalaman menjelajah alam, kami ulangi perjalanan dari rute yang sama.

Tepat di titik seperti suara air terdengar sepekan lalu, kami kembali mendengarnya. Memang terdengar seperti suara air tapi sepintas seperti gemuruh angin. Saya yang berada di belakang barisan berhenti, seraya memandang ke atas bukit.

Benar saja. Di situ ada air. Aliaran air itu samar terlihat di antara celah dedaunan yang bergerak ditiup angin. Mungkin karena sungai Siarsik-arsik di lokasi itu juga terlihat kering, tidak disadari ada anak sungai ke arah bukit di sebelah kanan kami berdiri.

Kami pun bergegas ke jalur kanan yang agak sedikit tersembunyi, dan ternyata di balik punggung bukit inilah sumber suara itu. Air terjun!

Air Terjun yang cukup tinggi dan bertingkat itu membuat kami terpelongo. Ternyata tidak begitu jauh dari Kantor Camat Lumbanjulu Kabupaten Toba ada potensi wisata yang luar biasa. Akhirnya kami pun sepakat menamai air terjun itu dengan nama Air Terjun Corona, karena kami temukan saat pandemi Covid-19.

Kini satu tahun berlalu, lokasi ini sudah mulai dikunjungi kawula muda penduduk sekitar. Pembatasan kegiatan oleh pemerintah di masa pandemi menjadikan tempat ini salah satu pilihan bagi anak-anak sekitar untuk berwisata.

Penulis : Asmon Pardede
Editor : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU