spot_img

Aek Sipangolu, Peninggalan Sisingamangaraja yang “Hidup”

HUMBAHAS – Sebagai seorang awam, awalnya saya hanya mengenal Sisingamangaraja dari sisi heroiknya saja di tanah Batak. Namun ternyata, terdapat kisah perjalanan hidup beliau yang dipercaya sebagian orang, meninggalkan mukjizat bagi generasi sesudahnya. Tak terlalu banyak orang yang mengenal sisi lain seperti perjalanan beliau karena memang publikasinya tidak seagung perjuangan beliau. Salah satu kisah perjalanan itu adalah Aek Sipangolu di Desa Simangulampe Kecamatan Baktiraja.

Aek Sipangolu 2
Lokasi Aek Sipangolu.(foto:gomgom)

Aek Sipangolu, memiliki arti “Air Kehidupan”. Diberi nama demikian karena airnya diyakini mujarab untuk menyembuhkan penyakit.

Pertama kali mendengar kata Aek Sipangolu itu ketika saya masih sekolah dasar. Itupun mengenalnya sebatas pemandian dan jiarah saja. Seiring waktu, kini saya sering mendengar sejarah di baliknya, yang sekarang ramai dikunjungi sebagai objek wisata sejarah.

Menurut penuturan pengelola objek wisata ini, bermarga Sinambela, sejarah Aek Sipangolu berawal ketika Opung Sisingamangaraja I dalam suatu perjalanan di perbukitan Simangulampe.

Di tengah perjalanan, gajahnya kehausan. Mengetahui hal itu, Opung Sisingamangaraja berdoa pada Sang Khalik. Selepas berdoa, beliau menancapkan tongkatnya di tanah dan memancarlah air. Sejak saat itu, air tersebut mengalir terus hingga menjadi sungai.

Sejak dahulu, sungai ini memang telah ramai dikunjungi, baik dari Baktiraja itu sendiri maupun dari luar Baktiraja. Terlebih setelah lokasinya ditata dengan adanya dukungan sarana prasarana dari pemerintah terkait beberapa tahun yang lalu, pengunjung semakin nyaman berada di lokasi Aek Sipangolu. Pada umumnya pengunjung datang dalam rangka jiarah.

Aek Sipangolu 3
Sejumlah orang yang berjiarah.(foto:gomgom)

Adapun sarana yang terdapat di lokasi ini adalah, papan informasi yang memudahkan pengunjung mengetahui tentang Aek Sipangolu. Kolam renang di sini juga berbeda. Di atasnya dibangun pancuran air, sehingga pengunjung yang berenang dapat merasakan tekanan air di punggungnya. Kamar mandi, ruang ganti dan toilet juga dibuat nyaman dengan memisahkan ruang pria dan wanita.

TERKAIT  Gereja Biara Katolik Parapat, Megah Bergaya Belanda

Di samping itu, mengingat objek wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh tamu yang ingin berjiarah, pengelola menyediakan jeruk purut, galon untuk wadah air dari sungai untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh maupun obat, bagi yang pecaya.

Pernah sekali saya sempat bertemu dan berinteraksi dengan salah seorang pengunjung Aek Sipangolu yang datang jauh dari Pekanbaru. Selain berjiarah, ternyata dia dalam tahap penyembuhan pernyakit. Dia dan keluarganya meyakini, air dari sini adalah obat.

Aek Sipangolu 4
Kru sendratari Warna Danau di Aek Sipangolu.(foto:ist)

Melihat semakin ramainya pengunjung ke situs ini, tidaklah salah jika menyebut objek wisata ini sebagai peninggalan Sisingamangaraja yang “hidup”. Apalagi, banyak dari mereka yang memang percaya, menikmati air dari sana dapat membuat hidup lebih sehat, bahkan mempertahankan kehidupan

Di sekitar lokasi, sudah ada penjual makanan dan minuman. Setelah menikmati sejuknya air di sana, pengunjung bisa menyeruput secangkir kopi atau segelas teh manis. Bisa juga memesan mie instan.

Pada dasarnya masih banyak sisi lain dari Sisingamangaraja yang belum kita ketahui, namun kita akan mengulasnya sedikit demi sedikit. Jika bro dan sista ingin menikmatinya, Aek Sipangolu memerlukan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Bandara Silangit dan 1 jam dari Dolok Sanggul.

 

Penulis    : Gomgom Lumbantoruan
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU