Adam Malik, Pahlawan Nasional Berlatar Belakang Jurnalis asal Kota Siantar

BERSPONSOR

SIANTAR – “Semua bisa diatur”. Istilah itu mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita, terlebih bagi masyarakat Sumatera Utara. Ya, kalimat itu dicetuskan seorang Adam Malik.

Tokoh bangsa kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara ini memiliki nama lengkap Adam Malik Batubara. Wakil Presiden masa jabatan 1978-1983 era kepemimpinan Presiden Suharto.

Dia tutup usia pada 5 September 1984. Melalui Keppres Nomo 107/TK/1998, diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan kemudian istri beserta anak-anaknya mendirikan Museum Adam Malik di Jakarta.

Semasa hidupnya, dia banyak berkutat di dunia jurnalis dan politik. Bersama 5 orang penulis lainnya, yakni Soemanang, Sipahutar, Armijn Pane, Abdul Hakim dan Pandu Kartawiguna.

BERSPONSOR

Dia juga yang memelopori berdirinya Kantor Berita Antara. Di sana dia dipercaya menjadi redaktur dan merangkap Wakil Direktur Antara.

Sebelum berangkat ke Jakarta, Adam Malik diketahui pernah memimpin Partai Indonesia (Partindo) cabang Pematang Siantar dan Medan. Saat itu usianya belum genap 17 Tahun.

Awal karir Adam Malik di dunia politik semakin bersinar setelah meninggalkan Partindo dan merintis terbentuknya Partai Rakyat pada 1946.

Pada tahun 1960, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Kemudian pada 1962 diangkat menjadi pemimpin delegasi RI berunding dengan Belanda di USA terkait Irian Barat.

TERKAIT  Mengubah Hidup, Menggerakkan Ekonomi Keluarga: Kisah Inspiratif Eni Sinaga bersama BRI

Pecahnya Gerakan 30 September 1965, Adam Malik mengambil posisi aman dengan mendukung penuh Soeharto pasca tragedi yang menewaskan pucuk pimpinan TNI Angkatan Darat itu. Setahun kemudian, dia keluar dari Partai Murba.

Masih di tahun yang sama Adam Malim dilantik menjadi anggota kabinet dalam Kabinet Dwikora III. Saat itu Soekarno masih ditempatkan sebagai Presiden dan sejak itu pula, anak Siantar itu selalu masuk dalam Kabinet.

Pada 6 Juni 1968, Soeharto berhasil merebut kursi RI 1 dari Soekarno. Soeharto pun menjadi orang paling berpengaruh di negeri ini sejak saat itu. 3 tahun kemudian, Adam Malik bergabung ke Golkar dan pada 1978, ia berhasil menjadi Wakil Presiden menggantikan Sri Sultan Hamengkubowono IX.

Latar belakang keluarganya bukanlah politisi, melainkan pedagang. Semasa muda ia tidak mengikuti jejak orangtuanya dan memilih menjadi wartawan dengan belajar menulis secara otodidak.

- Advertisement -

Atas semua jasa-jasanya dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, namanya dijadikan nama lapangan utama dan nama jalan di kota kelahirannya, Pematang Siantar, Sumatra Utara.

Penulis : Giort
Editor   : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU