spot_img

Ada Parsanggul Na Ganjang di Warna Danau

NINNA.ID – Saya dan istri berangkat. Hari ini, ada penampilan perdana Warna Danau di Labersa, Balige dan kami dari Sanggar Maduma dapat undangan. Cuaca sangat mendukung. Tentu, arti mendukung bukan berarti tak ada hujan. Tetapi, kami mendahului hujan. Sesampai di Hotel Labersa, dari kejauhan di arah Tara bunga saya melihat: oh, hujan sudah turun.

Di Labersa, orang-orang sudah berkumpul. Tamu undangan banyak hadir. Bupati dan Wakil Bupati Toba datang beriringan. Begitu juga dengan perwakilan BPODT. Dan, tentu saja BPNB Aceh. Teman-teman lama berjumpa lagi. Ada Bima Purba dari Dairi. Ada Ojak Manalu dari RKI. Ada Octa Matondang dari Sitopaksada. Ada Ferry Sagala sebagai koreografi. Dan, tentu saja Thompson Hs.

Sebagaimana teman lama, bincang-bincang pun dilakukan. Seniman memang selalu unik. Selalu ada saja masa bagi mereka untuk bertemu setelah mungkin berpisah. Mungkin saja saya tak akan di sini jika kami tak membuka sanggar. Inilah yang saya syukuri: istri saya, dalam benak saya, punya potensi yang hebat sebagai koreografi.

Jodoh tak kemana. Ia dekat dengan kita. Begitu orang berkata. Tentu, arti dekat tidak soal geografis atau jarak. Dekat juga adalah soal minat dan ambisi. Saya tak pernah berjumpa dengan istri sebelumnya. Tetapi, Tuhan memang asyik. Ia memberi kita jodoh dengan cara yang unik yang bahkan tak kita imajinasikan sebelumnya. Akhirnya, jadilah kami menikah dan membuka sanggar.

Ada juga Bang Harmoko Sinaga dari Sanggar Tonggi, Humbang Hasundutan. Ia diplot sebagai pembawa acara dan ia memang pakarnya di sana. Bahasa kerennya: MC. Ia tampil dengan sangat baik. Acara dipandu dengan sedikit nakal, tapi banyak akal. Maksud saya: lucu, tetapi berisi. Masih banyak teman untuk disebutkan, termasuk dari teman-teman media. Sebut, misalnya, junior saya: Mauritz Pardosi.

Tentang penampilan, secara keseluruhan tergolong baik. Tetapi, sebagaimana lazimnya, selalu ada kekurangan. Entah teknis. Entah kegugupan. Dan, masih banyak lagi. Dalam pandangan saya, misalnya, beberapa pelakon belum menyatu dengan naskah yang padat dan berisi itu. Ada juga kesalahan elementer: membelakangi penonton dan itu berulang.

Tetapi, kesalahan adalah hal lazim. Kesalahan tak sama dengan kejahatan. Kesalahan bisa terjadi karena euforia yang berlebih. Atau, gugup. Atau, mulai gemetar. Seorang aktor hebat sekalipun akan tetap punya rasa gugup. Namun, secara keseluruhan, penampilan sangat baik sehingga berkali-kali di sepanjang penampilan, lalu memuncak di akhir, tepuk tangan sangat riuh.

TERKAIT  Sinaga - Situmorang: Siapa Si Abangan?

Nah, dari beberapa penampilan adegan, ada banyak informasi baru yang saya terima. Tiba-tiba, misalnya, ada penari dengan sanggul memanjang ke atas. Saya belum tahu ini tradisi dari mana. Saya meng-gogling, informasi juga dangkal. Yang saya dapat justru kumpulan puisi. Puisi, seperti diketahui, bisa datang sesuai kehendaknya entah dari mana. Ia bisa datang dari sejarah, bisa juga dari imajinasi.

Saya dan Bang Thompson Hs duduk bersama di meja paling belakang. Karena ia sutradara sekaligus penulis naskah, saya lantas bertanya tentang sanggul yang memanjang itu. Kata beliau, sanggul memanjang dulunya ada dan digunakan para sibaso.

Sibaso adalah “pandai” untuk urusan perbantuan kelahiran. Saya sebenarnya ingin menggali lebih dalam: mengapa harus sanggul yang memanjang?

Akhirnya, acara sudah selesai. Di depan sana, Bang Harmoko mulai tampil segar. Ia ajak orang berfoto, bercanda, berkomentar, dan masih banyak lagi. Saya bangga pada penampilan kali ini. Baru kali ini saya lihat penampilan Opera Batak hadir di panggung megah berikut dengan latar animasi yang mendukung. Baru kali ini juga saya melihat beragam puak bergabung di Opera Batak.

Semoga ini awal yang baik. Sebagai awal tentu harus ada langkah lanjutan. Jika hanya sekali, bagi saya itu hanya coba-coba. Tetapi, jika berkelanjutan, bagi saya itu punya banyak nama. Bisa edukasi. Bisa penggalian. Bisa pelestarian. Namun, apa pun namanya, tradisi di KDT sangat menarik untuk dipertontonkan di layar megah dan modern.

Sudah saatnya kita mengombinasikan modernisasi dengan tradisi. Tentu, batas-batasnya harus ada. Modernisasi hanya melengkapi dan memperindah, bukan malah dominan dan menanggalkan tradisi. Sekali lagi, semoga ini awal yang baik. Sebab, dari segi penampilan dan visual, menurut saya sebagai penonton yang suka sastra dan teater, ada beberapa poin yang harus dimantapkan.

Akhirnya, selamat untuk para pemain, kru, tim kreatif, sutradara dan penulis naskah, terutama kepada pemerintah melalui BPNB Aceh. Menjadi tantangan kita bersama agar program ini menjadi program tahunan. Kali ini di Balige. Tahun depan bisa di Doloksanggul. Kali ini, sanggar kami masih penonton. Tahun depan, mungkin sudah bisa ikut berkontribusi.

Horas, mejuahjuah, njuah-juah, dan apa lagi salam khas kita?

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU