70 Tahun Hubungan Diplomatik Jerman dan Indonesia: Ada Agenda Budaya

BERSPONSOR

NINNA.IDSuasana G-20 turut juga mewarnai budaya. Kali ini, dalam suasana G-20, Indonesia dan Jerman punya agenda. Agenda budaya tepatnya. Sekaligus dalam bingkai 70 tahun hubungan diplomatik Jerman-Indonesia.

Jerman dan Indonesia memang sudah berhubungan sejak 1952. Sudah 70 tahun. Usia yang sudah cukup tua.

Dua tahun sebelumnya berdiri DIG (Deutsch-Indonesische Gesellschaft). Itu pada 1950. Perlu ada informasi.

Pertemuan G-20 akan berlangsung di Bali. Itu pada 15-16 November 2022. Dua hari setelah itu, tepatnya 18-19 November 2022, agenda budaya muncul. Temanya Budaya dalam Dialog.

BERSPONSOR

Di sana akan dibahas proses kreatif seniman. Seniman itu adalah Walter Spies. Pada masa lalu, Walter Spies bekerja sama dengan Seniman Bali.

Walter Spies sangat menginspirasi dan motivasi kepada banyak seniman Bali. Ini berkat dukungan dari Tjokorde Gede Agung Sukawati  (1910-1978). Tjokorde Gede Agung Sukawati adalah Raja Ubud.

Sebagai Raja Ubud, ia dikenal atas jasanya memajukan pariwisata dan kesenian di Ubud.

Dari dukungan itu, Walter Spies memperkenalkan gaya non sakral tiga dimensi atau bentuk-bentuk realis bermotif alam dan kehidupan sehari- hari di Bali.

BERSPONSOR

Bersama pelukis Bonnet dan pengukir Nyoman Lempad, ia mendirikan asosiasi seniman Bali “Pita Maha”.

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas karya seni Bali. Walter Spies termasuk salah seorang yang membuka gerbang untuk turisme internasional ke Bali.

Ia membawa para tokoh terkenal. Ada Collin Mc Phee (komposer). Ada Charlie Chaplin (aktor, komedian). Ada Vicky Baum (pengarang), ada Baron von Plessen (dokumentator).

Masih banyak. Ada lagi Margaret Mead (antropolog), Gregory Bateson (antropolog), Miguel Covarrubias (pelukis), dll.

- Advertisement -

Bersama Wayan Limbak (penari Bali kelahiran 1897), Walter Spies juga melakukan komodifikasi tarian Kecak. Tarian Kecak berasal dari Desa Bedulu, Gianyar, Bali, sekitar tahun 1930-an.

TERKAIT  Thompson Hs: Seniman Tradisi Lisan dari Tipang, Humbang Hasundutan

Atas usulan Walter Spies, tarian Sanghyang tersebut dimodifikasi menjadi sebuah tarian Kecak seperti yang sekarang kita kenal.

Singkatnya, acara budaya ini dibuat untuk mempererat hubungan persahabatan Jerman-Indonesia, terutama dalam lingkup dialog antarbudaya, mendukung usaha-usaha pendidikan dan kerja sama antara seniman Jerman dan Indonesia.

Sudah pasti, acara ini akan melihat kembali peran Walter Spies di masa lalu di Indonesia. Lalu dihubungkan ke masa depan tentang apa relevansi dan konsekuensi hubungan Indonesia dan Jerman dalam perkembangan budaya.

“Seni adalah motor penggerak dialog antarbudaya,” kata Karl Mertes.

Karl Mertes adalah seorang Jerman. Ia menikah dengan putri Batak. Namanya Lena Simanjuntak.

Ia pendiri Pusat Latihan Opera Batak bersama Sitor Situmorang dan juga Thompson Hs. Karl Mertes kini sudah bermarga. Ia jadi Batak bule. Bermarga Pardede. Kata Mertes, mereka ingin memperkuat dialog budaya.

“Kami ingin melempar batu ke dalam air untuk memperdalam kontak-kontak yang sudah ada dan mengintensifkannya di masa depan. Kami tidak bermaksud menonjolkan Walter Spies dalam acara ini, namun kami mengambil ide dan insipirasi itu dan ingin melanjutkannya pada masa yang akan datang,” kata Karl Mertes.

Karl Mertes adalah Ketua Lembaga Persahabatan Jerman-Indonesia. Tahun 2016 lalu, PLOt dan DIG punya agenda. Namanya Batak Tag. Atau Batak Day. Atau hari Batak.

Kali ini, mereka datang ke Bali. Agendanya agenda dialog budaya. Kita bisa ikutan hadir. Pembicaranya keren-keren. Dari Jean Cocteau sampai Soemantri.

Penulis : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor   : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU