spot_img

5 Peninggalan Bersejarah di Sidikalang Dairi

DAIRI – Tak hanya kopinya saja yang terkenal sampai mendunia, ternyata Kecamatan Sidikalang yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Dairi juga mempunyai peninggalan bersejarah yang masih terawat hingga sekarang. Peninggalan bersejarah itu masuk dalam catatan dan sebagian di bawah pengawasan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Pemkab Dairi.

Kelima peninggalan bersejarah itu: 1 (satu) di Kelurahan Sidiangkat, 2 (dua) Kelurahan Sidikalang, 1 (satu) Kelurahan Bintang Hulu dan 1 (satu) lagi di Kelurahan Bintang Mersada.

Mau tau apa saja peninggalan bersejarah tersebut, ini hasil liputan ninna.id.

1. Gedung Nasional Djauli Manik

Peninggalan bersejarah
Gedung Nasional Djauli Manik.(foto:fajar)

Gedung bersejarah yang merupakan simbol adat budaya suku Pakpak ini berada di Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi. Gedung ini memiliki keunikan tersendiri terutama bagian atasnya (atap bangunannya bermotif rumah Pakpak).

Gedung kebanggan masyarakat Kabupaten Dairi ini sudah ada sejak Dairi mengalami pemekaran tahun1964. Namun yang ada saat itu masih berupa lapangan berisi tugu perjuangan.

Pada tahun 1995 baru dibangunlah gedung tersebut dan diberi nama Gedung Nasional Djauli Manik. Nama itu diambil dari nama seorang tokoh yang menjadi wakil pemerintahan pada masa kemerdekaan.

2. Tugu Perjuangan Kemerdekaan

Peninggalan bersejarah
Foto : fajar

Tugu ini dulunya berada satu kawasan dengan Gedung Nasional Djauli Manik. Dulunya lokasi Gedung Nasional Djauli Manik digunakan sebagai tempat pengibaran bendera merah putih pada tanggal 17 Agustus 1945.

Untuk memperingati tempat pengibaran bendera tersebut, pemerintah pun membangun tugu perjuangan. Untuk membuktikan bahwa lokasi tersebut sebagai lokasi awal tempat pengibaran bendera merah putih.

Tugu perjuangan dulunya berada di posisi paling depan, sehingga terkesan menutupi gedung Djauli Manik. Maka sesuai kesepakatan pada tahun 1999, dan hasil musyawarah tokoh masyarakat dan tokoh adat mengajukan permohonan kepada Pemerintah Dairi untuk memindahkan tugu tersebut.

TERKAIT  "Naga Api" Membakar Kaldera Toba

Atas persetujuan Pemerintah Dairi saat itu, maka Tugu Perjuangan Kemerdekaan dipindah ke taman depan masjid Agung Sidikalang di Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Sidikalang.

3. Batu Aceh

Peninggalan bersejarah
Foto : fajar

Batu Aceh merupakan tempat pemakaman keluarga Marga Angkat yang terletak di Gunung Amal, Kelurahan Sidiangkat, Kecamatan Sidikalang.

Batu Aceh ini merupakan kelompok batu nisan gaya Aceh yang berjumlah 25 buah dan satu buah batu menyerupai lesung. Tempat ini dikelilingi pagar besi dan Batu Aceh ini memiliki ukuran yang berbeda-beda.

Menurut M Angkat warga setempat, batu tersebut dibawa dari Aceh sebagai wujud persahabatan Raja Aceh dengan Abdul Mulia Angkat. Raja Aceh memberikan kerbau dan batu kepada Abdul Mulia Angkat, tetapi Abdul Mulia Angkat lebih memilih Batu Aceh. Semenjak itu Abdul Mulia Angkat menyebarkan Islam di daerah Sidiangkat.

4. Batu Hija/Perjanjian

batu hija
Foto : fajar

Batu ini berada di aliran sungai, di mana warga setempat menyebutnya Lae Renun terletak di Desa Bintang Mersada Kecamatan Sidikalang. Batu ini merupakan tempat perjanjian antara Marga Bintang dan Marga Silalahi.

Keyakinan masyarakat, Batu Hija memiliki keunikan tersendiri berupa gumpalan batu yang menyatu tepat ditengah-tengah aliran sungai.

5. Rumah Adat Marga Bintang

Rumah adat bintang
Foto : fajar

Rumah adat ini merupakan peninggalan bersejarah Marga Bintang dan satu-satunya yang masih tersisa. Rumah adat ini terletak di Dusun Barung-barung, Kelurahan Bintang Hulu, Kecamatan Sidikalang.

Sedangkan untuk peninggalan bersejarah lainnya, seperti Mejan, Pangulu balang dan senjata Raja Marga Bintang semuanya sudah hilang.

 

Penulis    : Fajar Gunawan
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU