spot_img

21 Homestay di Desa Ini Jarang Terima Tamu

SAMOSIR  – Desa ini cukup dikenal dengan kawasan Pantai Indah Situngkir.  Di kawasan ini terdapat panggung seni, Dermaga Jetty, dan yang terbaru ada Gedung Creative Hub Samosir, yang beberapa waktu lalu diresmikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif Sandiaga Salahuddin Uno.

Didukung destinasi pantai dan fasilitas pendukung lainnya, ternyata tidak berdampak bagi usaha homestay yang ada di sini. Hal itu disampaikan salah seorang pengelola penginapan murah itu, Supriadi Sijabat.

Kepada ninnA saat dijumpai di kediamannya, Minggu (03/06/2022), dia mengaku sangat jarang menerima tamu di Homestay miliknya. Padahal, lokasinya hanya berjarak sekitar 50 meter dari kawasan pantai.

homestay situngkir 1
Homestay di kawasan Pantai Situngkir.(foto:edward)

“Hanya beberapa kali saja dan total seluruh tamu yang kami terima setelah bangunan ini selesai direhab oleh PUPR, tidak sampai 100 orang,” ujar Supriadi tersenyum.

Menurutnya hal ini terjadi karena homestay yang mereka miliki belum seluruhnya memiliki fasilitas pendukung seperti tempat tidur, bantal, selimut dan pendukung lainnya. Kekurangan inilah salah satu faktor yang membuat para tamu membatalkan niat untuk menginap.

“Kan gak semua pengelola punya uang untuk melengkapi fasilitas itu. Dan dari pemerintah juga belum ada bantuan seperti itu,” sebutnya.

Supriadi juga mengatakan, di desanya terdapat 21 homestay yang terbagi di 2 dusun: di dusun 1 ada 6 unit, dan di dusun 2 ada 15 unit.

Dia berharap agar pemerintah memberikan dukungan fasilitas dan pelatihan yang merata kepada para pengelola homestay.

TERKAIT  Tulila dan Mossak Ramaikan Hiburan Seni di Sipinsur
Homestay situngkir 2
Homestay di Lumban Uruk.(foto:edward)

 

Di hari yang sama di tempat yang berbeda, namun masih di Desa Situngkir: di dusun 2, ninnA bertemu dengan Windra Sagala, pengelola homestay hasil revitalisasi Kementerian PUPR.

Windra juga menyampaikan keluhan yang sama: kurangnya fasilitas pendukung yang membuat para tamu sering mengurungkan niatnya untuk menginap.

“Iya benar, sering kali batal nginap jadinya. Lagian, promosi homestay kami masih sangat kurang. Itu juga mungkin yang membuat tamu jarang menginap,” ujarnya.

Keluhan pengelola tersebut dibenarkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir, Tetti Naibaho, saat dikonfirmasi lewat pesan Whatsapp di hari yang sama.

“Belum. Hanya revitalisasi homestay,” ujar Tetti.

Namun dia menjelaskan, sebanyak 10 homestay sudah pernah mendapat bantuan fasilitas pendukung, yakni di Lumban Sitohang dan di Desa Siallagan Pindaraya.

Terkait pelatihan kepada pengelola yang tidak merata, Tetti Naibaho berdalih karena kuota peserta pelatihan hanya 40 orang saja. Sementara homestay yang sudah direvitalisasi ada 310. Maka dilakukan bertahap.

“Semoga kami dapat mengadakan pelatihan melalui anggaran pusat dan provinsi Sumut,” ujarnya.

Begitupun, Tetti Naibaho berharap agar para pengelola homestay dapat mempersiapkan diri untuk menampung jumlah wisatawan yang akan menginap.

“Karena menginap di homestay salah satu pilihan bijak saat ini. Siapkan peralatan tidur bersih, toilet yang bersih, dan layani wisatawan dengan ramah,” ujarnya mengakhiri percakapan.

 

Penulis  : Edward Limbong
Editor     : Mahadi SItanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU